Dalam ajaran Agama Hindu Trimurti adalah Tiga kekuatan Brahma (Sang Hyang Widhi)(sebutan Tyhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, meleburkan alam beserta isinya. Kata Tuhan merujuk kepada suatu Zat Abadi dan Supernatural, biasanya dikatakan mengawasi dan memerintah Manusia dan alam semesta atau jagat raya. Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep yang mirip dengan ini misalkan sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; Kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apapun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.Trimurti terdiri dari 3 yaitu:
Sakti: Dewi Saraswati yang merupakan dewi ilmu pengetahuan
Senjata: Gada
Simbol: A
Warna: Merah
Sakti: Dewi Sri atau Dewi Laksmi
Senjata: Cakra
Simbol: U
Warna: Hitam
Sakti: Dewi Durga, Uma, dan Parwati
Simbol: M
Warna: Manca Warna
Apabila simbol dari ketiga dewa tesebut digabungkan, maka akan menjadi AUM yang dibaca "OM" ( ॐ ) yang merupakan simbol suci agama Hindu.
Kamis, 25 Oktober 2007
Trimurti
Diposting oleh anumurama di 21.51 1 komentar
Label: Dewa Brahma, Dewa Siwa, Dewa Wisnu, Seputar Bali, trimurti
Kalki (Sang penghancur)
Dalam ajaran Agama Hindu, Kalki (Sansekerta: कल्कि ; Jepang: カルキ) (juga disalin sebagai Kalkin dan Kalaki) adalah awatara kesepuluh dan Maha Avatāra (inkarnasi) terakhir Dewa Wisnu Sang pemelihara, yang akan datang pada akhir zaman Kali Yuga ini (zaman kegelapan dan kehancuran). Kata Kalki seringkali merupakan suatu kiasan dari “keabadian” atau “masa”. Asal mula nama tersebut barangkali berasal dari kata “Kalka” yang bermakna “kotor”, “busuk”, atau “jahat” dan oleh karena itu Kalki berarti “Penghancur kejahatan”, “Penghancur kekacauan”, "Penghancur kegelapan", atau “Sang Pembasmi Kebodohan”. Dalam bahasa Hindi, kalki avatar berarti “inkarnasi hari esok”.Apa yang akan Kalki lakukan?
Berbagai tradisi memiliki berbagai kepercayaan dan pemikiran mengenai kapan, bagaimana, di mana, dan mengapa Kalki Awatara muncul. Penggambaran yang umum mengenai Kalki Awatara yaitu beliau adalah Awatara yang mengendarai kuda putih (beberapa sumber mengatakan nama kudanya “Devadatta” (anugerah Dewa) dan dilukiskan sebagai kuda bersayap). Kalki memiliki pedang berkilat yang digunakan untuk memusnahkan kejahatan dan menghancurkan iblis Kali, kemudian menegakkan kembali Dharma dan memulai zaman yang baru.Ramalan tenteng Kalki
Salah satu sumber yang pertama kali menyebutkan istilah Kalki adalah Wisnu Purana, yang diduga muncul setelah masa Kerajaan Gupta sekitar abad ke-7 sebelum Masehi. Wisnu adalah Dewa pemelihara dan pelindung, salah satu bagian Trimurti, dan merupakan penengah yang mempertimbangkan penciptaan dan kehancuran sesuatu. Kalki juga muncul di salah satu dari 18 kitab Purana yang utama, Agni Purana. Kitab purana yang memuat khusus tentang Kalki adalah Kalki Purana. Di sana dibahas kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa Kalki muncul.Kalki yang bermakna lain
Diposting oleh anumurama di 02.14 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Buddha (Sang pemuka agama)
| Siddhartha Gautama |
Dalam ajaran Agama Hindu Buddha sebagai Awatara Dewa Wisnu adalah Sebuah konsep salam agama hindu yang dimaksudkan untuk menghormati sang buddha. Siddhartha Gautama, pendiri agama Buddha. Buddha Awatara atau sang Buddha merupakan seorang tokoh penting yang muncul dalam kitab Purana (Susastra Hindu) sebagai Awatara kesembilan dari Dasa Awatara Dewa Wisnu. Dalam Bhagavata Purana, beliau disebut sebagai Awatara kedua puluh empat dari dua puluh lima Awatara Wisnu. Kata Buddha berarti “Dia yang mendapat pencerahan”. Buddha Awatara terlahir sebagai putera mahkota Raja Suddhodana di sebuah kerajaan Hindu bernama Kapilawastu di India Utara (sekarang merupakan wilayah kerajaan Nepal) dengan nama Siddharta Gautama yang berarti “Dia yang mencapai segala hasratnya”.Namun ajaran Siddhartha Gautama tidak menekankan keberadaan "Tuhan sang Pencipta" [1] dan konsekuenskinya, agama Buddha termasuk bagian dari salah satu mazhab nāstika (heterodoks, harafiah "Itu tidak ada") menurut mazhab-mazhab agama Dharma lainnya, seperti Dvaita. Namun beberapa mazhab lainnya, seperti Advaita, sangat mirip dengan ajaran Buddhisme, baik bentuk maupun filsafatnya.
| Riwayat singkat Sang Buddha |
Pangeran Siddharta Gautama
Pangeran Siddharta Gautama lahir sekitar abad ketujuh sebelum Masehi (± tahun 623 SM) (2400 tahun yang lalu). Siddharta bukanlah anak biasa. Dalam usia yang sangat muda, Siddharta ahli dalam segala bidang pengetahuan, bahkan melampaui anak-anak yang sebaya dengannya. Selain itu ia rajin bermeditasi, sangat gagah dan tampan, dan selalu menjadi pemenang dalam setiap perlombaan. Pada usia muda ia dinikahkan dengan puteri Yasodhara. Ia kemudian memiliki seorang putera yang diberi nama Rahula.
Ayahnya, Raja Suddhodana, sangat menginginkan dia menjadi Maharaja Dunia, namun pikirannya dibayang-bayangi oleh ramalan petapa Kondanna yang mengatakan bahwa anaknya akan menjadi Buddha karena melihat empat hal: orang sakit, orang tua, orang mati, dan orang peminta-minta. Keempat hal tersebut selalu berusaha ditutupi olah ayahnya. Ia tidak akan membiarkan sesuatu yang bersifat sakit, tua, mati, dan peminta-minta dilihat oleh Siddharta.Namun Siddharta memang sudah ditakdirkan untuk menjadi Buddha. Ramalan pertapa Kondanna menjadi kenyataan. Keinginan Siddharta untuk menjadi Buddha terlintas ketika ia melihat empat hal tersebut, orang tua, orang sakit, orang mati, dan peminta-minta. Keempat hal tersebut pula yang membuka pikirannya untuk mencari obat penawarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pertapa dan berkeliling mencari pertapa-pertapa terkenal dan mengikuti ajarannya, namun semuanya tidak membuat Siddharta puas. Akhirnya ia menemukan pencerahan ketika bertapa di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya pada malam Purnama Sidhi bulan Waisak.
Pemutaran Roda Dharma
Ajaran Sang Buddha pertama kali diterima oleh lima orang bhiksu: Kondanna, Bhaddiya, Mahanama, Assaji, dan Vappa. Hari pemutaran roda Dharma yang pertama tersebut diperingati oleh umat Buddha sebagai hari suci Asadha. Setelah saat itu, makin lama makin banyak orang yang menjadi pengikut Beliau. Inti ajarannya terangkum dalam tiga baris syair yang diajarkan-Nya:
Ajaran Siddharta Gautama atau Sang Buddha terkenal sebagai ajaran agama Buddha. Ajaran ini pula yang menjadi ajaran terpenting agama Buddha di seluruh dunia. Sang Buddha Parinirwana dalam usia delapan puluh tahun, pada bulan Waisaka purnamasidhi. Pada masa sekarang, hari kelahiran Beliau, hari Beliau mendapat pencerahan, dan hari Beliau Parinirvana, diperingati sebagai hari suci Waisak.
| Buddha menurut umat Hindu |
Dalam tradisi Hindu, Sang Buddha tidak memiliki posisi istimewa dalam Veda. Menurut kepercayaan umat Hindu, pada masa Kali Yuga, orang-orang mulai melupakan ajaran agama dan tindakan mereka melenceng atau tidak sesuai dengan Veda. Maka dari itu, Sang Buddha muncul untuk menyempurnakan kembali tindakan yang melenceng dari Veda dan menolak untuk menerapkan pengorbanan hewan.
Pada mulanya agama Buddha dianggap sebagai sebuah sekte oleh umat Hindu ketika ajarannya disebarkan di daratan India. Oleh umat Hindu, Siddharta sendiri dihormati dan diyakini sebagai salah satu penjelmaan (Awatara) Tuhan. Siddharta menolak diterapkannya lembaga kasta dan upacara-upacara dalam Veda, dan juga terdapat beberapa filsafat tersendiri yang berbeda dengan filsafat Hindu, sehingga sekte yang didirikan Siddharta Gautama menjadi agama tersendiri.
Beberapa tokoh Hindu menganggap Buddha merupakan seorang tokoh yang memperbarui ajaran Veda. Dalam beberapa filsafat Hinduisme, Rama dan Krishna yang merupakan Awatara juga dipuja sebagai Dewa, namun Sang Buddha yang juga merupakan Awatara tidak dipuja dalam Hindu selayaknya Awatara yang lain.
Diposting oleh anumurama di 00.47 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Rabu, 24 Oktober 2007
Krisna (Sang pengembala)
Menurut Mahabharata, Kresna berasal dari Kerajaan Surasena, namun kemudian ia mendirikan kerajaan sendiri yang diberi nama Dwaraka. Dalam cerita Mahabharata, ia dikenal sebagai tokoh raja yang bijaksana, sakti, dan berwibawa. Dalam ajaran agama Hindu, ia dikenal sebagai awatara Dewa Wisnu yang kedelapan. Dalam Bhagawad Gita, beliau adalah perantara kepribadian Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) yang menjabarkan ajaran kebenaran mutlak (dharma) kepada Arjuna. Beliau mampu menampakkan secercah kemahakuasaan Tuhan yang hanya disaksikan oleh tiga orang pada waktu perang keluarga Bharata akan berlangsung. Ketiga orang tersebut adalah Arjuna, Sanjaya putra Widura, dan Vyasa. Namun Sanjaya dan Vyasa tidak melihat secara langsung, melainkan melalui mata batin mereka yang menyaksikan perang Bharatayuddha. Kutipan di bawah ini menjelaskan alasan mengapa Wisnu menjelma. Dalam sebuah kalimat dalam Bhagawatapurana: Kitab Mahabharata, bagian Adiwansawatarana) memberikan alasan yang serupa, meskipun dengan perbedaan yang kecil dalam bagian-bagiannya.
Dalam ajaran Agama Hindu Kresna atau Krisna (Devanagari: कृष्ण; dilafalkan kṛṣṇa menurut IAST; dilafalkan 'kɹ̩ʂ.nə dalam Bahasa Sansekerta) adalah salah satu Dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu karena dianggap merupakan aspek dari Brahman.Ia disebut pula Narayana yaitu sebutan yang merujuk pada perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha.Ia biasa nya di gambarkan sebagai sosok pengembala muda yang mamainkan seruling atau pangran muda yang memberikan tuntunan filosofis (seperti dalam Bhagawad Gita).Dalam ajaran Agama Hindu umumnya.Krisna dipuja sebagai Awatara Wisnu yang di anggap Dewa yang paling hebat dalam perguruan Waisnawa. Dalam tradisi Gaudiya Waisnawa, Kresna dipuja sebagai sumber dari segala awatara (termasuk Wisnu).
Dalam bahasa Sansekerta, kata Krishna berarti "hitam" atau "gelap", dan kata ini umum digunakan untuk menunjukkan pada orang yang berkulit gelap. Dalam Brahma Samhita dijabarkan bahwa Krishna memiliki warna kulit gelap bersemu biru langit.Dan umumnya divisualkan berkulit gelap atau biru pekat. Sebagai Contoh, di Kuil Jaganatha, di Puri, Orissa, India (nama Jaganatha, adalah nama yang ditujukan bagi Krishna sebagai penguasa jagat raya) di gambarkan memiliki kulit gelap berdampingan dengan saudaranya Baladewa dan Subadra yang berkulit cerah.
daftar dan nama lain dari kresna
Kresna sebagai Awatara sekaligus orang bijaksana memiliki banyak sekali nama panggilan sesuai dengan kepribadian atau keahliannya. Nama panggilan tersebut digunakan untuk memuji, mengungkapkan rasa hormat, dan menunjukkan rasa persahabatan atau kekeluargaan. Nama panggilan Kresna di bawah ini merupakan nama-nama dari kitab Mahabarata dan Bhagawad Gita versi aslinya (versi India). Nama panggilan Kresna adalah:
Ikthisar kehidupan Sri Kresna di bawah ini diambil dari Mahābhārata, Hariwangsa, Bhagawata Purana, dan Wisnu Purana. Lokasi dimana Kresna diceritakan adalah India Utara, yang mana sekarang merupakan wilayah negara bagian Uttar Pradesh, Bihar, Haryana, Delhi, dan Gujarat. Kutipan pada permulaan dan akhir cerita merupakan teologi yang tergantung pada sudut pandang cerita.Penitisan
Dewa Brahma memberitahu para Dewa: Sebelum kami menyampaikan permohonan kepada Beliau, Beliau sudah sadar terhadap kesengsaraan di muka bumi. Maka dari itu, selama Beliau turun ke bumi demi menuntaskan kewajiban dengan memakai kekuatan-Nya sendiri sebagai sang waktu, wahai kalian para Dewa semuanya akan mendapat bagian untuk menjelma sebagai para putera dan cucu dari keluarga wangsa Yadu Kelahiran
Kepercayaan tradisional yang berdasarkan data-data dalam sastra dan perhitungan astronomi menyatakan bahwa Sri Krishna lahir pada tanggal 19 juli tahun 3228 SM.
Kresna berasal dari keluarga bangsawan di Mathura, dan merupakan putera kedelapan yang lahir dari puteri Dewaki, dan suaminya Basudewa. Mathura adalah ibukota dari wangsa yang memiliki hubungan dekat seperti Wresni, Andaka, dan Bhoja. Mereka biasanya dikenali sebagai Yadawa karena nenek moyang mereka adalah Yadu, dan kadang-kadang dikenal sebagai Surasena setelah adanya leluhur terkemuka yang lain. Basudewa dan Dewaki termasuk ke dalam wangsa tersebut. Raja Kamsa, kakak Dewaki, mewarisi tahta setelah menjebloskan ayahnya ke penjara, yaitu Raja Ugrasena. Karena takut terhadap ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di tangan salah satu putera Dewaki, maka ia menjebloskan pasangan tersebut ke penjara dan berencana akan membunuh semua putera Dewaki yang baru lahir. Setelah enam putera pertamanya terbunuh, dan Dewaki kehilangan putera ketujuhnya, lahirlah Kresna. Karena hidupnya terancam bahaya maka ia diselundupkan keluar dan dirawat oleh orangtua tiri bernama Yasoda dan Nanda di Gokul, Mahavana. Dua anaknya yang lain juga selamat yaitu, Balarama (putera ketujuh Dewaki, dipindahkan ke janin Rohini, istri pertama Basudewa) dan Subadra (putera dari Basudewa dan Rohini yang lahir setelah Balarama dan Kresna).
Tempat yang dipercaya oleh para pemujanya untuk memperingati hari kelahiran Kresna kini dikenal sebagai Krishnajanmabhoomi, dimana sebuah kuil didirikan untuk memberi penghormatan kepadanya.Kehidupan di Kemudian Hari
Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka selama 36 tahun. Kemudian pada suatu perayaan, pertempuran meletus di antara para Yadawa yang saling memusnahkan satu sama lain. Lalu kakak Kresna – Balarama – melepaskan raga dengan cara melakukan Yoga. Kresna berhenti menjadi raja kemudian pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon melakukan meditasi. Seorang pemburu yang keliru melihat sebagian kaki Kresna seperti rusa kemudian menembakkan panahnya dan menyebabkan Kresna mencapai keabadian. Menurut Mahabharata, kematian Kresna disebabkan oleh kutukan Gandari. Kemarahannya setelah menyaksikan kematian putera-puteranya menyebabkannya mengucapkan kutukan, karena Kresna tidak mampu menghentikan peperangan. Setelah mendengar kutukan tersebut, Kresna tersenyum dan menerima itu semua, dan menjelaskan bahwa kewajibannya adalah bertempur di pihak yang benar, bukan mencegah peperangan.
Menurut referensi dari Bhagawatapurana dan Bhagawad Gita, ditafsirkan bahwa Kresna wafat sekitar tahun 3100 SM.[6] Ini berdasarkan deskripsi bahwa Kresna meninggalkan Dwarka 36 tahun setelah peperangan dalam Mahabharata terjadi. Matsyapurana mengatakan bahwa Kresna berusia 89 tahun saat perang berkecamuk. Setelah itu Pandawa memerintah selama 36 tahun, dan pemerintahan mereka terjadi saat permulaan Kali Yuga. Selanjutnya dikatakan bahwa Kali Yuga dimulai saat Duryodana dijatuhkan ke tanah oleh Bima berarti tahun 2007 sama dengan tahun 5108 (atau semacam itu) semenjak Kali Yuga
Diposting oleh anumurama di 23.11 1 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Selasa, 23 Oktober 2007
Rama (Sang pangeran)
Rama dalam kitab Rigveda dan Atharvaveda adalah kata sifat yang berarti "gelap, hitam", atau kata benda yang berarti "kegelapan", bentuk feminim dari kata sifat tersebut adalah rāmī. Dua Rama muncul dalam pustaka Weda, dengan nama keluarga Mārgaveya dan Aupatasvini; Rama yang lain muncul dengan nama keluarga Jāmadagnya yang dianggap sebagai penulis himne Rigveda. Menurut Monier-Williams, tiga Rama dihormati pasca masa Weda, yaitu: Dalam Wisnu sahasranama, Rama adalah nama lain Wisnu yang ke-394. Dalam interpretasi dari komentar Adi Sankara, yang diterjemahkan oleh Swami Tapasyananda dari Misi Ramakrishna, Rama memiliki dua pengertian: 1) Brahman yang maha kuasa yang menganugerahkan para yogi; 2) Ia (Wisnu) yang meninggalkan kahyangan untuk menitis kepada Rama, putera Dasarata. Sumber utama mengenai kehidupan dan perjalanan Rama adalah wiracarita Ramayana yang disusun Resi Walmiki. Namun, sastra lain dalam bahasa Sansekerta juga merefleksikan riwayat dalam Ramayana. Sebagai contoh, Wisnupurana juga menceritakan Rama sebagai awatara Wisnu yang ketujuh dan dalam Bayupurana, seorang Rama disebut di antara tujuh Resi dari Manwantara ke-8. Dan juga kisah Rama disebut dalam wiracarita lainnya, yaitu Mahabharata. Versi lain yang penting dan lebih pendek adalah Ādhyātma Ramayana.
Dalam ajaran Agama Hindu, Rama (Sansekerta: राम; Rāma) atau Ramachandra (Sansekerta: रामछन्द्र; Rāmachandra) adalah seorang raja legendaris yang terkenal dari India yang konon hidup pada zaman Treta Yuga, keturunan Dinasti Surya atau Suryawangsa. Ia berasal dari Kerajaan Kosala yang beribukota Ayodhya. Menurut pandangan Hindu, ia merupakan awatara Dewa Wisnu yang ketujuh yang turun ke bumi pada zaman Treta Yuga. Sosok dan kisah kepahlawanannya yang terkenal dituturkan dalam sebuah sastra Hindu Kuno yang disebut Ramayana, tersebar dari Asia Selatan sampai Asia Tenggara. Terlahir sebagai putera sulung dari pasangan Raja Dasarata dengan Kosalya, ia dipandang sebagai Maryada Purushottama, yang artinya "Manusia Sempurna". Setelah dewasa, Rama memenangkan sayembara dan beristerikan Dewi Sita, inkarnasi dari Dewi Laksmi. Rama memiliki anak kembar, yaitu Kusa dan Lawa.
Raghu dari Dinasti Surya.
kadangkala dianggap sebagai Jāmadagnya, atau sebagai Bhārgava Rāma
(keturunan Bhrigu), seorang "Chiranjiwi" atau makhluk abadi.
saat bertempur), kakak sekaligus teman dekat Kresna, awatara Wisnu yang
kedelapan.
Diposting oleh anumurama di 23.52 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Parasurama (Sang Brāhmana-Kshatriya)
Dalam ajaran Agama Hindu, Parasurama atau Ramaparasu (Sansekerta: परशुराम भार्गव ; Parashurama Bhargava) (Parashu berarti kapak; Parashurama = Rama bersenjata kapak) disebut juga Parashurama Bhargawa, adalah Awatara Wisnu yang keenam yang turun pada masa Treta Yuga. Ia merupakan salah satu Chiranjiwin atau makhluk abadi. Saat kelahirannya, Wisnu menjelma sebagai seorang Brahmana kesatria, putera Jamadagni. Pada masa tersebut ada banyak sekali ksatria yang gemar berperang dan menjadi ancaman di muka bumi. Maka dari itu, beliau berusaha untuk menumpas ksatria-ksatria tersebut dan meminimalisir jumlahnya. Meskipun demikian, tidak semua ksatria ditumpas olehnya. Ksatria-ksatria yang mampu bertahan hidup bersembunyi dan melanjutkan keturunannya.
Parasurama dilukiskan sebagai Brahmana ksatria yang berwajah sangar dan menyeramkan. Rambutnya kusut terurai sampai menyentuh tanah. Senjata beliau adalah kapak. Beliau adalah seorang ksatria hebat yang paling ditakuti bangsa ksatria. Banyak para ksatria yang gemetar dan ketakutan bila berhadapan dengannya.
Meski peran Wisnu sebagai Parasurama pada masa Treta Yuga telah berakhir, namun Parasurama tetap hidup dan muncul pada inkarnasi Wisnu yang berikutnya, yakni pada kehidupan Rama, masa Treta Yuga (sebagai Brahmana yang marah karena Rama mematahkan busur Siwa), dan pada kehidupan Kresna, masa Dwapara Yuga (sebagai guru Karna yang mengajarinya cara menggunakan panah sakti Brahmāstra namun mengutuknya begitu menyadari Karna ternyata seorang keturunan Ksatria).
Beliau diyakini masih hidup sampai saat ini dan sedang bertapa di atas gunung atau dalam hutan belantara yang lebat.
Nama Lain
Parashurama memiliki nama lain, yaitu:
* Bhrigupati
* Bhargawa (Bhargava)
* Rama Bhargawa
Diposting oleh anumurama di 23.37 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Wamana (Sang orang cebol)
Dalam ajaran Agama HinduWamana Awatara (Devanagari: वामन ; Vamana) adalah Awatara Wisnu yang kelima, turun pada masa Treta Yuga, sebagai putera Aditi, seorang Brahmana. Beliau (Batara Wisnu) turun ke dunia guna menegakkan kebenaran dan memberi pelajaran kepada raja Bali (Mahabali), seorang Asura, cucu dari Prahlada. Raja Bali telah merebut surga dari kekuasaan Dewa Indra, karena itu Wisnu turun tangan dan menjelma ke dunia, memberi hukuman pada Raja Bali. Wamana awatara dilukiskan sebagai Brahmana dengan raga anak kecil yang membawa payung. Wamana Awatara merupakan penjelmaan pertama Dewa Wisnu yang mengambil bentuk manusia lengkap, meskipun berwujud Brahmana mungil. Wamana kadang-kadang dikenal juga dengan sebutan Upendra.
Kisah Wamana Awatara dimuat dalam kitab Bhagawata Purana. Menurut cerita dalam kitab, Wamana sebagai Brahmana cilik datang ke istana Raja Bali karena pada saat itu Raja Bali mengundang seluruh Brahmana untuk diberikan hadiah. Ia sudah dinasehati oleh Guru Sukracharya agar tidak memberikan hadiah apapun kepada Brahmana yang aneh dan lain daripada biasanya. Pada waktu pemberian hadiah, seorang Brahmana kecil muncul di antara Brahmana-Brahmana yang sudah tua-tua. Brahmana tersebut juga akan diberi hadiah oleh Bali.
Brahmana kecil itu meminta tanah seluas tiga jengkal yang diukur dengan langkah kakinya. Raja Bali pun takabur dan melupakan nasihat Guru Sukracharya. Ia menyuruh Brahmana kecil itu melangkah.
Pada waktu itu juga, Brahmana tersebut membesar dan terus membesar. Dengan ukurannya yang sangat besar, ia mampu melangkah di surga dan bumi sekaligus. Pada langkah yang pertama, ia menginjak surga. Pada langkah yang kedua, ia menginjak bumi. Pada langkah yang ketiga, ia menginjak kepala Raja Bali. Tamatlah riwayat Bali.
Kisana Awamana Awatara dan Raja Bali diperingati setiap tahun pada perayaan Onam di Kerala (India. Disana juga terdapa kuil yang khusus yang memuja Beliau (Awamana). Selain disana, beberapa kuil Wamana tersebut di India. salah satunya di Kanchipuram, dekat kuil Kamakshi.
Diposting oleh anumurama di 23.16 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Narasimha (Sang manusia-singa)
Dalam ajaran Agama Hindu, Narasimha Awatara (Devanagari:नरसिंह ; disebut juga Narasingh, Narasinga) (di Bali biasa disebut Narasinga) adalah Awatara Wisnu yang turun ke dunia, berwujud manusia dengan kepala singa, kukunya tajam seperti pedang, dan memiliki banyak tangan yang memegang senjata. Narasimha merupakan simbol Dewa pelindung yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam bahaya. Pada menjelang akhir masa Satya Yuga, ada seorang bangsa Asura yang bernama Hiranyakashipu, kakak Hiranyaksa. Semenjak adiknya dibunuh oleh Waraha (Awatara Wisnu), ia membenci Dewa Wisnu dan menjadikannya busuh bebuyutan.
Hiranyakashipu memohon kepada Brahma, agar memberinya kehidupan abadi, tak akan bisa mati dan tak akan bisa dibunuh. Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta, bahwa ia tidak akan bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun Dewa, tidak bisa dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam, tidak bisa dibunuh di darat, air, api, ataupun udara, tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah, dan tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya. Namun, kesaktian itu justru membuatnya sangat angkuh dan terjerumus ke dalam kegelapan. Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para Dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra, menyerbu rumahnya. Narada datang untuk menyelamatkan istri Hiranyakashipu yang tak berdosa, Lilawati (Leelavathi). Akhirnya anaknya yang diberi nama Prahlada lahir dan dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasan ayahnya.
Narasimha membunuh Hiranyakashipu
Mengetahui para Dewa melindungi istrinya, Hiranyakashipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Dewa Wisnu, dan anaknya (Prahlada), kini menjadi pemuja Dewa Wisnu. Ia pun membenci puteranya. Namun, setiap kali ia membunuh puteranya, ia selalu tak pernah berhasil karena dihalangi oleh kekuatan ajaib yang merupakan perlindungan dari Dewa Wisnu. Ia kesal karena selalu gagal oleh kekuatan Dewa Wisnu, namun ia tidak menyaksikan Dewa Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung. Ia menantang Prahlada untuk menunjukkan Dewa Wisnu. Prahlada menjawab, “Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul”.Mendengar jawaban itu, ayahnya sangat marah, mengamuk dan menghancurkan pilar rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara yang menggemparkan. Pada saat itulah Dewa Wisnu sebagai Narasimha muncul menyelamatkan Prahlada dari amukan ayahnya. Pada waktu itu juga ia hendak membunuh Hiranyakashipu. Namun, atas anugerah dari Dewa Brahma, Hiranyakashipu tidak bisa mati. Agar berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku, ia memilih wujud sebagai manusia berkepala singa untuk membunuh Hiranyakashipu. Ia juga memilih waktu dan tempat yang tepat. Berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku. Narasimha berhasil merobek-robek perut Hiranyakashipu. Akhirnya Hiranyakashipu berhasil dibunuh oleh Narasimha, karena ia dibunuh bukan oleh manusia, binatang, atau Dewa. Ia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, atau malam, tapi senja hari. Ia dibunuh bukan di luar atau di dalam rumah. Ia dibunuh bukan di darat, air, api, atau udara, tapi di pangkuan Narasimha. Ia dibunuh bukan dengan senjata, melainkan dengan kuku.
Diposting oleh anumurama di 22.28 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Waraha (Sang babi hutan)
Waraha
Dalam ajaran Agama Hindu Waraha Awatara (Sansekerta: वाराह ; Varaha Avatāra) adalah Awatara ketiga dari Dewa Wisnu yang berwujud babihutan. Awatara ini muncul pada masa Satya Yuga, dimana pada waktu itu ada seorang raksasa bernama Hiranyaksha, adik raksasa Hiranyakashipu, yang hendak menenggelamkan Pertiwi (planet bumi) ke dalam lautan kosmik, suatu tempat antah berantah di ruang angkasa. Melihat dunia belum waktunya kiamat, Dewa Wisnu menjelma menjadi babihutan yang memiliki dua taring panjang mencuat. Pertempuran antara raksasa Hiranyaksha dan Dewa Wisnu berlangsung sengit. Konon pertarungan ini terjadi ribuan tahun yang lalu dan memakan waktu ribuan tahun pula. Pada akhirnya, Dewa Wisnu yang menang.
Setelah beliau memenangkan pertarungan, beliau mengangkat Bumi seperti bola dengan dua taring nya yang panjang muncuat, dari lautan Kosmik, dan meletakkan Bumi kembali pada orbitnya. Setelah itu, Dewa Wisnu menikahi Dewi pertiwi dalam wujud Awatara tersebut.
Waraha Awatara dilukiskan sebagai Babi hutan yang membawa planet Bumi dengan kedua taringnya dan meletakkan nya diatas Hidung, didepan mata. Kadang dilukiskan sebagai manusia berkepala Babi hutan, dengan dua taring menyangga bola dunia, bertangan empat, masing - masing membawa Cakra, trompet dari kulit kerang, teratai, dan Gada.
Nama Lain
* Bhuvaraghan
* Varaghan
* Varha
* YagnaVaraha
* SreeVaraham
* AdhiVaraha
Diposting oleh anumurama di 22.04 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Kurma (Sang kura-kura)
Kurma
Dalam agama Hindu, Kurma (Sansekerta: कुर्म) adalah penjelmaan kedua dewa Wisnu. Seperti Matsya, awatara Wisnu yang muncul pada masa Satya yuga.Wisnu mengambil wujud seekor kura-kura dan duduk di dasar lautan susu setelah banjir besar. Sebuah gunung ditempatkan di punggungnya. Di bawah gunung tersebut konon terdapat harta karun dan tirta amerta yang dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para Dewa dan Asura berlomba-lomba mendapatkannya. Para Dewa dan para Asura mengikat gunung tersebut dengan naga Wasuki dan memutar gunung tersebut. Dewa Indra memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat ke atas. Setelah sekian lama tirta amerta berhasil didapat dan Dewa Wisnu mengambil alih.
Dikisahkan pada zaman Satya Yuga, para Dewa, asura, dan rakshasa bersidang di puncak gunung Mahameru untuk mencari cara mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) bersabda, “Kalau kalian menghendaki tirta amerta tersebut, aduklah lautan Ksira, sebab dalam lautan tersebut terdapat tirta amerta. Maka dari itu, kerjakanlah!”.
Setelah mendengar perintah Sang Hyang Nārāyana, berangkatlah para Dewa, asura, dan rakshasa pergi ke laut Ksira (Ksirārnawa). Terdapat sebuah gunung bernama Gunung Mandara (Mandaragiri) di Sangka Dwipa (Pulau Sangka), tingginya sebelas ribu yojana. Gunung tersebut dicabut oleh Sang Anantabhoga beserta segala isinya. Setelah mendapat izin dari Dewa Samudera, gunung Mandara dijatuhkan di laut Ksira sebagai tongkat pengaduk lautan tersebut. Seekor kura-kura (kurma) raksasa bernama Akupa yang konon katanya sebagai penjelmaan Wisnu, menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia disuruh menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.
Naga Basuki dipergunakan sebagai tali, membelit lereng gunung tersebut. Dewa Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas. Setelah siap, para Dewa, rakshasa dan asura mulai memutar gunung Mandara dengan menggunakan Naga Basuki sebagai tali. Para Dewa memegang ekornya sedangkan para asura dan rakshasa memegang kepalanya. Mereka berjuang dengan hebatnya demi mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh. Gunung Mandara menyala, Naga Basuki menyemburkan bisa membuat pihak asura dan rakshasa kepanasan. Lalu Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para asura dan rakshasa. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat lautan Ksira mengental, pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.
Timbulnya Racun
Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar. Racun tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha (Sansekerta: "Nila": biru, "Kantha": tenggorokan). Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun muncul, yaitu:
* Sura, Dewi yang menciptakan minuman anggur
* Apsara, kaum bidadari kahyangan
* Kaustubha, permata yang paling berharga di dunia
* Ucaisrawa, kuda para Dewa
* Kalpawriksha, pohon yang dapat mengabulkan keinginan
* Kamadhenu, sapi pertama dan ibu dari segala sapi
* Airawata, kendaraan Dewa Indra
* Lakshmi, Dewi keberuntungan dan kemakmuran
Akhirnya keluarlah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta. Karena para Dewa sudah banyak mendapat bagian sementara para asura dan rakshasa tidak mendapat bagian sedikit pun, maka para asura dan rakshasa ingin agar tirta amerta menjadi milik mereka. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para asura dan rakshasa dan Gunung Mandara dikembalikan ke tempat asalnya, Sangka Dwipa.
Perebutan Tirta Amerta
Melihat tirta amerta berada di tangan para asura dan rakshasa, Dewa Wisnu memikirkan siasat bagaimana merebutnya kembali. Akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik, bernama Mohini. Wanita cantik tersebut menghampiri para asura dan rakshasa. Mereka sangat senang dan terpikat dengan kecantikan wanita jelmaan Wisnu. Karena tidak sadar terhadap tipu daya, mereka menyerahkan tirta amerta kepada Mohini. Setelah mendapatkan tirta, wanita tersebut lari dan mengubah wujudnya kembali menjadi Dewa Wisnu. Melihat hal itu, para asura dan rakshasa menjadi marah. Kemudian terjadilah perang antara para Dewa dengan asura dan rakshasa. Pertempuran terjadi sangat lama dan kedua pihak sama-sama sakti. Agar pertempuran dapat segera diakhiri, Dewa Wisnu memunculkan senjata chakra yang mampu menyambar-nyambar para asura dan rakshasa. Kemudian mereka lari tunggang langgang karena menderita kekalahan. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para Dewa.
Para Dewa kemudian terbang ke Wisnuloka, kediaman Dewa Wisnu, dan di sana mereka meminum tirta amerta sehingga hidup abadi. Seorang rakshasa yang merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika mengetahui hal itu, kemudian ia mengubah wujudnya menjadi Dewa dan turut serta meminum tirta amerta. Hal tersebut diketahui oleh Dewa Aditya dan Chandra, yang kemudian melaporkannya kepada Dewa Wisnu. Dewa Wisnu kemudian mengeluarkan senjata chakranya dan memenggal leher sang rakshasa, tepat ketika tirta amerta sudah mencapai tenggorokannya. Badan sang rakshasa mati, namun kepalanya masih hidup karena tirta amerta sudah menyentuh tenggorokannya. Sang rakshasa marah kepada Dewa Aditya dan Chandra, dan bersumpah akan memakan mereka pada pertengahan bulan.
Diposting oleh anumurama di 19.47 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Matsya (Sang Ikan)
Dalam ajaran Agama Hindu, Matsya Awatara (Sansekerta: मत्स्य ; matsya, berarti ikan), dalam dasa Awatara, adalah Awatara Wisnu yang pertama, yang muncul pada masa Satya Yuga, pada masa pemerintahan Maharaja Manu, putera Vivasvan Sang Dewa matahari, yang diyakini sebagai ayah umat manusia masa kini. Matsya Awatara turun ke dunia untuk memberitahu raja Manu mengenai bencana air bah yang akan melanda bumi. Beliau memerintahkan raja Manu untuk segera membuat perahu besar.
Oleh beberapa orang, karena temanya sama, kisah ini disamakan dengan kisah Nabi Nuh, yang konon membuat bahtera besar untuk melindungi umatnya dari bencana air bah yang melanda bumi. Kisah dengan tema yang sama juga ditemukan di beberapa negara, seperti kisah dari Vietnam dan dari Yunani.
Kisah Matsya Awatara
Pada suatu hari, saat raja Manu mencuci tangan di sungai, seekor ikan kecil menghampiri tangannya dan raja tahu ikan itu meminta perlindungan. Akhirnya beliau memelihara ikan tersebut. Beliau menyiapkan kolam kecil sebagai tempat tinggal ikan tersebut.
Namun lambat laun ikan tersebut bertambah besar, hampir memenuhi seluruh kolam. Akhirnya beliau memindahkan ikan tersebut ke kolam yang lebih besar. Kejadian tersebut terus terjadi berulang-ulang sampai akhirnya beliau sadar bahwa ikan yang ia pelihara bukanlah ikan biasa.
Akhirnya melalui upacara, diketahuilah bahwa ikan tersebut merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Beliau menyampaikan kabar bahwa di bumi akan terjadi bencana air bah yang sangat hebat. Beliau berpesan agar raja Manu membuat sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan diri dari banjir besar, dan mengisi bahtera tersebut dengan berbagai makhluk hidup yang setiap jenisnya berjumlah sepasang (betina dan jantan). Akhirnya amanat tersebut dipatuhi. Raja Manu beserta pengikutnya selamat dari bencana.
Kisah Matsya Awatara selengkapnya terdapat dalam kitab Matsyapurana.
Diposting oleh anumurama di 00.09 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
Senin, 22 Oktober 2007
Dewa Wisnu
Dewa Wisnu
Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (Devanagari: विष्णु ; Viṣṇu) (disebut juga Sri Wisnu atau Nārāyana) adalah Dewa yang bergelar sebagai "shtiti" (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman. Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Ia dipandang sebagai roh suci dan Dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Advaita Vedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat dengan Brahman.
Penjelasan tradisional menyatakan bahwa kata “Viṣṇu” berasal dari Bahasa Sansekerta, akar katanya "viś", (yang berarti "menempati", “memasuki”, juga berarti “mengisi” — menurut Rigveda), dan mendapat akhiran “nu”. Kata Wisnu kira-kira diartikan: "”Sesuatu yang menempati segalanya”". Pengamat Weda, Yaska, dalam kitab Nirukta, mendefinisikan Wisnu sebagai “vishnu vishateh”; “sesuatu yang memasuki segalanya”, dan “yad vishito bhavati tad vishnurbhavati”; “yang mana sesuatu yang tidak terikat dari belenggu itu adalah Wisnu”. Adi Sankara menyatakan: "kekuatan dari Yang Maha Kuasa telah memasuki seluruh alam semesta. Akar kata Viś berarti 'masuk ke dalam.'"
Dewa Wisnu Dalam Sastra Hindu
Dalam Sastra Hindu banya yang menyebut-nyebut nama Wisnu diantara Dewa-Dewi lain nya. Dlama kitab Weda Dewa Wisnu muncul sebanyak 93 kali. Ia sering muncul bersama Indra, yang membantunya membunuh Vritra, dan ia bersamanya meminum Soma. Hubungan nya yang deket dengan Indra membuatnya disebut sebagai saudara.
Dalam Veda, Wisnu muncul tidak sebagai salah satu dari delapan Aditya, namun sebagai pemimpin mereka. Karena mampu melangkah di tiga alam, maka Wisnu dikenal sebagai "Tri-wikrama" atau "Uru-krama" untuk langkahnya yang lebar. Langkah pertamanya di bumi, langkah keduanya di langit, dan langkah ketiganya di dunia yang tidak bisa dilihat oleh manusia, yaitu di surga. Dalam kitab Purana, Dewa Wisnu sering muncul dan menjelma sebagai seorang Awatara, seperti misalnya Rama dan Kresna, yang muncul dalam Itihāsa. Dalam penitisannya tersebut, Wisnu berperan sebagai manusia unggul.
Dalam Bhagawad Gita, Dewa Wisnu menjabarkan ajaran agama dengan mengambil sosok sebagai Sri Kresna, kusir kereta Arjuna, menjelang perang di Kurukshetra berlangsung. Pada saat itu pula Sri Kresna menampakkan wujud semestanya kepada Arjuna kemudian ia menampakkan wujud rohaninya sebagai Wisnu.
Wujud Dewa Wisnu
Dalam Purana, dan selayaknya penggambaran umum, Dewa Wisnu dilukiskan sebagai Dewa yang berkulit hitam-kebiruan atau biru gelap; berlengan enam, masing-masing memegang: gada, lotus, sangkala, dan chakra. Yang paling identik dengan Dewa Wisnu adalah senjata chakra dan kulitnya yang berwarna biru gelap. Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu disebutkan memiliki wujud yang berbeda-beda atau memiliki aspek-aspek tertentu.
Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu memiliki enam sifat ketuhanan:
Beberapa sarjana Waisnawa meyakini bahwa masih banyak kekuatan Wisnu yang lain dan jumlahnya tak terhitung, namun yang paling penting untuk diketahui hanyalah enam.
Awatara Dewa Wisnu
Dalam Purana, Dewa Wisnu menjelma sebagai Awatara yang turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan dan kehancuran. Wujud dari penjelmaan Wisnu tersebut beragam, hewan atau manusia. Awatara yang umum dikenal oleh umat Hindu berjumlah sepuluh yang disebut Dasa Awatara atau Maha Avatār.
Sepuluh Awatara Wisnu:
* matsya (Sang Ilan)
* Kurma (Sang Kura - Kura)
* Waraha (Sang Babi Hutan)
* Narasimha (Sang Manusia-Singa)
* Wamana (Sang Manusia-cebol)
* Parasurama (Sang Brāhmana-Kshatriya)
* Rama (Sang pangeran)
* Krisna (Sang pengembala)
* Buddha (Sang pemuka agama)
* Kalki (Sang penghancur)
Di antara sepuluh awatara tersebut, sembilan di antaranya diyakini sudah menjelma dan pernah turun ke dunia oleh umat Hindu, sedangkan awatara terakhir (Kalki) masih menunggu hari lahirnya dan diyakini menjelma pada penghujung zaman Kali Yuga.
Hubungan dengan Dewa lain
Dewa Wisnu memiliki hubungan dengan Dewi Lakshmi, Dewi kemakmuran yang merupakan istrinya. Selain dengan Indra, Wisnu juga memiliki hubungan dekat dengan Brahmā dan Siwa sebagai konsep Trimurti. Kendaraan Dewa Wisnu adalah Garuda, Dewa burung. Dalam penggambaran umum, Dewa Wisnu sering dilukiskan duduk di atas bahu burung Garuda tersebut.
Di Bali, Dewa Wisnu dipuja di sebuah pura khusus untuk beliau, bernama Pura Puseh, yakni pura yang harus ada di setiap desa dan kecamatan. Di sana ia dipuja sebagai salah satu manifestasi Sang Hyang Widhi yang memberi kesuburan dan memelihara alam semesta.
Menurut konsep Nawa Dewata dalam Agama Hindu Dharma di Bali, Dewa Wisnu menempati arah utara dalam mata angin. Warnanya hitam, aksara sucinya “U” (ung).
Diposting oleh anumurama di 23.16 0 komentar
Label: Dewa Wisnu, Seputar Bali
About Bali
Lihat profil lengkapku
Open all
Close all





