Mengapa Kata Dari Kami ini Untuk Kita
Om Swastiyastu....!
Setiap orang ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Ada yang mendekatkan diri dengan:
-Karma Marga
-Jnana Marga
-Bhakti Marga.
Bentuk pelaksanaan pendekatan diri tersebut ialah dengan memuja Tuhan. Pemujaan itu ada yang dilaksanakan dalam bentuk material, ada dalam bentuk kata-kata,dan ada pula dalam bentuk pikiran.
pemujaan dalam bentuk Material adalah berupa persembahan banten yang memerlukan kerja phisik dalam mewujudkan sedangkan pemujaan dalam bentuk kata-kata berupa nyanyian-nyanyian pujaan dan dengan pikiran adalah dalam wujud meditasi
Kenyataannya dalam pelaksanaan ketiga jenis bentuk pemujaan itu saling isi mengisi. Misalnya dalam sembahyang kita mempergunakan nyanyian pujaan, upakara dalam bentuk banten dan pemusatan pikiran.
Seperti kita pelajari dari Nasadya Sukta, Tuhan adalah impersonal, yaitu tiada berpribadi. Ia luput dari sifat-sifat sehingga Ia adalah bukan ini dan itu. Tetapi sepanjang nama dan sifat dilekatkan pada-Nya maka Ia personal, berpribadi. Demikianlah Varuna, Mitra, Indra dalam Veda, Brahma, Visnu, Siwa dalam Purana adalah Tuhan yang personal. Ia dipuja sebagai ista devata, dewata yang dimohon kehadirannya pada waktu pemujaNya memujaNya.
Dalam Bhagawadgita Sri Krsna menyatakan bahwa memuja Tuhan yang mutlak dan yang tanpa pribadi tidak mudah. Karena itu kita dapati pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang pemuja-Nya dengan penuh bakti dan memandang Ia sebagai tempat terakhir yang dituju. Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Bagi yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.
Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana.Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayama. Pranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabda, bayu, idep harus dalam keadaan seimbang.
Om Santhi Santhi Santhi Om
Jumat, 07 Desember 2007
Memuja Ida Sang Hyang Widhi
Diposting oleh anumurama di 11.27 2 komentar
Label: agama hindu
Jumat, 26 Oktober 2007
Agama Hindu
Agama Hindu adalah Agama yang berasal Anak benoa India. Agama ini merupakan kelanjutan dari agama Weda yang merupakan kepercayaan bangdan Indo-Iran. Agama ini diperkirakan muncul pada tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan Agama tertua di Dunia yang masih eksis hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah Krinten dan Islam dengan umat sebanyak hampir 1 Miliyar jiwa. Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain sebagian kecil yang tersebar di pulau Jawa dan Lombok.Etimilogi
Dalam Bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sansekerta).Dalam Rig Veda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anakbenua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu.Keyakinan dalam Agama Hindu
Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Tuhan itu Maha Esa, tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Advaita Vedanta menegaskan bahwa, hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Panca Sradha. Panca Sradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:
1. Widhi Tattwa – percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2. Atma Tattwa – percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3. Karmaphala – percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
4. Punarbhawa – percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksha – percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusiaWidhi Tattwa
Widhi Tattwa merupakan konsep kepercayaan terdapat Tuhan yang Maha Esa dalam pandangan Hinduisme. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam filsafat Advaita Vedānta dan dalam kitab Veda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut Brahman. Filsafat tersebut juga enggan untuk mengakui bahwa Dewa-Dewi merupakan Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat TuhanAtma Tattwa
Atma tattwa merupakan kepercayaan bahwa terdapat jiwa dalam setiap makhluk hidup. Dalam ajaran Hinduisme, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan yang berasal dari Tuhan dan disebut “Jiwatma”. Jiwatma bersifat abadi, namun karena terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat “Maya”, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatma mengalami proses reinkarnasi berulang-ulang. Namun proses reinkarnasi tersebut dapat diakhiri apabila Jiwatma mencapai moksha.Karmaphala
Agama Hindu mengenal “hukum sebab-akibat” yang disebut Karmaphala (karma=perbuatan; phala=buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil (baik atau buruk). Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah
reinkarnasi).Punarbhawa
Punarbhawa merupakan keyakinan bahwa manusia mengalami reinkarnasi. Dalam ajaran Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati. Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksha).Moksha
Dalam keyakinan umat Hindu, Moksha merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksha, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka-duka di dunia. Oleh karena iu, Moksha menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.
Diposting oleh anumurama di 23.44 3 komentar
Label: agama hindu, Seputar Bali
About Bali
Lihat profil lengkapku
Open all
Close all





